Pasang Iklan

ads ads ads ads ads ads

Sunday, 20 December 2009

PERBEDAAN INDIVIDU SEBAGAI LANDASAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
Manusia sejak dahulu sudah menjadi bahan pembicaraan manusia itu sendiri karena keunikannya. Unik dalam arti sisi fisik dan jiwanya. Maka wajar karena kompleksitas keunikannya itulah sampai saat ini hanya dapat menduga-duga. Kalaupun kajian itu bersifat ilmiah, konklusinya tidak dapat serta merta diproklamasikan sebagai sumber informasi primer yang benar secara generik.
Dikatakan demikian karena manusia benar-benar unik karena tidak ada dua individu yang identik, walaupun kedua individu tersebut kembar. Apa lagi jika manusia ini diteliti dengan mengkomparasikannya dengan hewan atau mahluk lain. Manusia sebagai mahluk berakal, mahluk berpikir, mahluk sosial, mahluk beradab, mahluk berperasaan, dan sekaligus mahluk individu.
Namun tidak berarti kita tidak menaruh salut kepada para pendahulu kita yang telah mendedikasikan hidup dan kehidupannya untuk memberi perncerahan dalam khasanah bereksplorasi mencari jawaban tentang manusia. Dengan pemikiran dan penemuan merekalah kita yang hidup saat ini untuk sementara menerima temuan mereka sebagai dasar kebenaran walaupun bersifat sementara. Dengan dasar pemikiran yang bersifat relatif tersebut pula kita dituntut untuk terus melanjutkan mencari kebenaran yang paripurna.
Di satu sisi, pendidikan sebagai salah satu budaya manusia, sekaligus sebagai cabang ilmu sosial sangat berkepentingan terhadap kajian perbedaan individu. Sebab dengan meletakkan perbedaan individu sebagai salah satu landasannya, proses pendidikan akan tepat sasaran. Dikatakan demikian karena proses pendidikan itu hakekatnya bersinggungan langsung dengan individu-individu. Bagaimana mungkin sebuah proses pendidikan akan berhasil guna dan berdaya guna manakala fitrah manusia yang memiliki perbedaan diabaikan.
Dengan menyadari sekaligus menghargai perbedaan individu, proses pendidikan akan lebih berarti. Bisa jadi modernisasi pendidikan seyogyanya diawali dengan kesadaran akan perbedaan individu yang memiliki kelebihan, dan atau kelemahan masing-masing. Maka muncul istilah-istilah CTL (Contekstual Teaching and Learning), life skill, penilaian proses, dan lain-lain yang berorientasi pada perbedaan individu. Malah jika penulis boleh usul, kurikulum berbasis kompetensi, manajemen berbasis sekolah, proses berbasis kelas, namun penilaian selayaknya berbasis individu. Hal ini penulis pikir layak karena setiap peserta didik memiliki kepentingan atas ketercapaian apa yang diharapkannya. Dan itu tidak sama dari setiap individu. Tetapi hal ini perlu kajian khusus.
Kembali pada masalah perbedaan individu. Banyak teori atau pendapat yang diutarakan oleh para ahli. Beberapa di antaranya penulis tampilkan secara singkat. Dan siapa tahu kajian berikut merangsang para pemikir muda untuk mengkaji lebih dalam tentang perbedaan individu ini guna mencari solusi terhadap perkembangan pendidikan ke arah yang lebih baik. Semoga.
A. Individu dan Karakteristiknya.
Untuk memahami karakteristik individu perlu terlebih dahulu dipahami apa yang dimaksud individu itu.
“Manusia” adalah mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum nabi Isa, manusia sudah menjasi objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakekat manusia maupun objek materil yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dan dari berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai mahluk yang berfikir atau “homo sapiens”, mahluk yang berbentuk atau “homo faber”, mahluk yang dapat dididik atau “homo educandum”, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang menusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan diakukan terhadap manusia tersebut. Berbagai pandangan itu membuktikan bahwa manusia adalah mahluk kompleks.
Setiap individu memiliki dan sifat atau karakteristik bawaan atatu (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut factor biologis maupun factor social psikologis.
Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu.Sejak terjadinya pembuahan dan konsepsi kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam factor lingkungan yang meransang. Masing-masing peransang tersebut, baik secara terpisah atau secara terpadu dengan rangsangan yang lain, semua membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang dibawa sejak lahir. Hal itu akhirnya membentuk suatu pola karakteristik tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang menjadi individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.
B. Perbedaan Individu.
Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup, betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). Dalam konteks pendidikan, Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni : (1) kawasan kognitif; (2) kawasan afektif; dan (3) kawasan psikomotor. Taksonomi perilaku di atas menjadi rujukan penting dalam proses pendidikan, terutama kaitannya dengan usaha dan hasil pendidikan. Segenap usaha pendidikan seyogyanya diarahkan untuk terjadinya perubahan perilaku peserta didik secara menyeluruh, dengan mencakup semua kawasan perilaku.
Dari bahasa bermacam-macam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua factor yang menonjol. Yaitu:
1. Semua manusia mempunyai unsur kesamaan didalam pola perkembangannya
2. Di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang berbentuk warisan manusia secara biologis dan social, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda.
Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukaan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombonasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain.
Perbedaan ini disebut perbedaan individual. Maka perbedaan dalam perbedaan individual menurut Landgren (1980:578) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun aspek psikologis.
1. Bidang-bidang Perbedaan
Garry 1963 (Oxendine, 1984: 317) mengategorikam perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut:
Perbedaan fisik, usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan dan kemampuan bertindak.
Perbedaan social termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
Perbedaan kecakapan atau kepandaian disekolah.
Secara kodrati, manusia memiliki potensi dasar yang esensial menbeedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Sekalipun demikian, potensi dasar yang dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia. Oleh karena itu sikap, minat, dan kemamp’uan berfikir, watak, perilakunya, dan hasil belajarnya berbeda-beda antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.
Sebagian manusia lebih mampu dibidang seni atau bidang ekspresi yang lain, seperti olahraga dan keterampilan, sebagian lagi mampu dibidang kognitif atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Adapun perbedaan-perbedaan individu antara lain:
 Perbedaan kognitif
 Perbedaan individual dalam kecakapan bahasa
 Perbedaan dalam kecakapan motorik
 Perbedaan dalam latar belakang
 Perbedaan dalam bakat
 Perbedaan dalam kesiapan belajar
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kajian Perbedaan Perilaku Individu.
Fillosof kuno Plato menjabarkan spekulasi tentang manusia, bahwa jiwa manusia merupakan:
1. Philosophic: yaitu jiwa untuk mencapai ilmu pengetahuan dan pengertian.
2. Spirited: yaitu jiwa untuk mencari kekuasaan dan ambisi.
3. Appetite: yaitu jiwa untuk memenuhi keinginan dan selera.
Teori-teori Klasik tentang Sifat Manusia
1. Machiavelli: Manusia pada dasarnya jahat, lebih buas dari binatang buas, dan diperbudak kehendak pengusaha dan negara2. Kelompok Organisasi Filosof Inggris: .
2. Manusia pada hakekatnya memerlukan kondisi mental yang kuat dalam rangka mencapai keinginan dan tujuan yang dikehendakinya.
3. Max Weber: Manusia pada dasarnya tidak rasional dan emosional yang membuat kurang baik dalam mengambil keputusan sehingga sering menambah masalah daripada memecahkan masalah.
4. F.W. Taylor: Manusia pada dasarnya malas, harus dikendalikan dengan ketat dan selalu harus berhati-hati agar dapat terhindar dari sifat pemborosan yang sulit dikendalikan oleh dirinya sendiri.
5. Elton Mayo: manusia pada dasarnya sebagai mahluk sosial yang ingin selalu bergabung dengan yang lain, berkelompok dan bekerja sama, bukan bersaing atau bermusuhan.
6. Ahli Ilmu Modern: Manusia pada dasarnya bukan mahluk baik, dan bukan pula mahluk jelek. Memiliki perilaku unik yang terarah tetapi tidak teratur.
Bila ditarik benang merahnya, dari pendapat para ahli di atas, manusia memiliki perilaku yang berbeda-beda berdasarkan fungsi interaksi dalam kehidupannya. Jika dirumuskan akan menjadi: P = f (I.L) keterangan: P: perilaku, f: fungsi, I: interaksi, L: lingkungan.

B. Adapun perbedaan individu tersebut disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Kemampuan yang berbeda, baik fisikis, maupun psikologis.
2. Perbedaan kebutuhan.
3. Kepercayaan (religius)
4. Pengalaman (experience).
5. Pengharapan (expectation)
6. Dan lain-lain (fisik, lingkungan, dan sebagainya)
Pendekatan Perilaku (Behavioral Aproach)
1. Pendekatan Kognitif seperti yang dikemukakan di atas, rumusan perilaku P = f (I.L.) antara perilaku fungsi dari individu dengan lingkungannya. Rumusan tersebut merupakan bangunan kesadaran mental individu dalam bersosialisasi terhadap lingkungan yang membentuk seseorang cara berpikir, memahami, dan melaksanakan kegiatan konsep yang menumbuhkan sikap, kepercayaan dan pengharapan. Dengan demikian pendekatan kognitif hanya dapat apa yang dilihat dalam perilaku saja yang direfleksikan pada ukuran perilaku. Elemen kognisi dikenal dengan rumus SCR sebagai berikut:
Stimulation Respons Cognition Menyisihkan uang jajan Menabung
Buku Contoh: Ketiga kognisi tersebut membentuk struktur kognisi yang menghasilkan sejumlah konsekuensi yang berbeda, yaitu:
a. Dalam kehidupan terdapat berjuta kognisi yang berbeda kompleksitasnya.
b. Merupakan kesatuan sistem atau konsonan, baik yang bertentangan maupun yang sepaham.
c. Saling terjalin dan membentuk suatu ideologi.
d. Dan dapat pula membentuk compartementalized yang tidak menyatu.
Selain struktur, kognisi dilihat dari fungsinya adalah sebagai berikut:
a. Membentuk pengertian (meaningfull).
b. Menghasilkan emosi dan perasaan (emotional and feeling)
c. Membentuk sikap (affective building)
d. Memberi motivasi (motivation incharge)
2. Pendekatan Penguatan (Reinforcement approach) Teori ini berkembang untuk meneliti perubahan perilaku dari eksperimen Ivan Pavlov dan Edward Thorndike melalui:
a. Penyelidikan reflek (conditional reflex) dengan rumus SR (stimulus – respons). Misalnya ada buah kedondong akan merangsang terbitnya air liur.
b. Trial and Error (law of effect), yaitu suatu usaha yang terus-menerus sampai mencapai kondisi kebutuhan nyata (real need).
Konsep penguatan ini dapat dilakukan dengan memberikan reward sebagai pembangun motivasi baik yang muncul secara internal berupa kebutuhan maupun secara eksternal berupa suport atau pujian.
3. Pendekatan Pemadaman (Extinetion approach) Pengaruh pelemahan
StimulusTeori ini digunakan untuk mengantisipasi perilaku yang negatif. Dalam rumusannya berarti terjadi pelemahan hubungan antara stimulus dengan respons.
4. Pendekatan Hukuman (Punishment approach)
Pendekatan ini berfungsi untuk mengantisipasi penyimpangan perilaku dengan cara memberi hukuman agar individu dapat kembali mengubah perilakunya yang menyimpang ke arah peningkatan respons.
Karena berupa hukuman, maka hubungan antara stimulus dengan respons tidak menyenangkan. Untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan tersebut, sebaiknya punishment bersifat:
a. dilakukan secara efektif dengan tujuan untuk memperbaiki perilaku menjadi
positif.
b. Memberi dampak jera pada individu.
c. Harus up to date.
d. Tetap diamati (teori Kendler).
Sebagai contoh guru yang tidak ikut upacara hari senin akan dipotong transportnya sehingga guru yang biasa tidak ikut akan berusaha datang untuk ikut upacara. Atau siswa yang tidak mengumpulkan pekerjaan rumah akan diberi tugas dua kali lipat dari tugas sebelumnya.
5. Pendekatan Psikoanalitis (Psychoanalytic Approach) Teori ini dikembangkan oleh Sigmund Freud. Dia mengatakan bahwa perilaku manusia dikuasai atau dikendalikan oleh kepribadiannya sendiri. Perbedaan individu dipengaruhi oleh konflik yang ada pada diri individu itu sendiri karena adanya model baik/buruk. Ukuran baik/buruk itu menjadi absolut/mutlak bagi individu yang mempercayainya yang bersumber pada magis atau supranatural, bukan ilmu.
Ego berada di bawah sadar untuk mendapatkan kekuasaan, keinginan, membutuhkan perantara sehingga berinteraksi di luar lingkungannya. Hubungannya dengan id dan superego adalah sebagai pengontrol dan bersifat melayani. Id adalah kepribadian yang bersumber pada kekuatan jiwa yang berupa insting-insting untuk mencapai kepuasan, keinginan, atau harapan-harapan. Id tidak terikat pada etik, moral, atau logika. Id memiliki sifat menerima yang bersumber pada libido, atau menolak yang bersumber pada agresi yang pada dasarnya bisa berupa merusak atau melawan.
Superego adalah sumber kekuatan moral personality seseorang. Superego terjadi setelah individu lepas dari periode oedipus komplek (cinta kepada orang tua). Superego merupakan mediator terhadap punishment dari proses penyimpangan perilaku individu. Superego membantu dan mendorong ego untuk mencapai kepuasan dan keinginan id atau membantu ego terhadap impul-impul id. Letupan-letupan id sebenarnya sulit untuk dikontrol oleh ego, karena itu superego potensial untuk membantu ego dalam mengatasi letupan id.
Perspektif pendekatan psikoanalitik Sigmund Freud ini adalah sebagai berikut;
Perilaku kreatif – penciptaan sesuatu Ketidakpuasan – dinamika keinginan yang terus-menerus Teknik pengembangan – training dan penelitian (belajar) Kepemimpinan dan kekuasaan – politik dan kenegaraan. Aspek Perbedaan Individu dalam Pendidikan Berikut ini akan diuraikan secara singkat tentang aspek-aspek perbedaan individu yang mendasari pendidikan.
1. Aspek Biologis Perilaku manusia pada hakikatnya dipengaruhi oleh interaksinya dengan lingkungan (empiris), dan faktor keturunan (hereditas). Aspek biologis ini tentu sangat penting untuk diperhatikan dalam konsep pengembangan ilmu pendidikan. Di antaranya kondisi fisik, perkembangan motorik, pewajahan, kesehatan, dan lain-lain.
Menurut Maslaw aspek kebutuhan fisik merupakan kebutuhan mutlak sehingga harus menjadi pertimbangan utama dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Karena itu hal-hal yang terkait dengan fisik/biologis individu sebagai peserta didik harus diperhatikan. Misalnya sarana/prasarana bangunan tempat belajar, jadwal kegiatan, peralatan khusus, pengaturan kelompok, serta konsep pendidikan yang tidak menumbuhkan konsep diri yang negatif.
2. Aspek Intelektual (Kognitif) Selain perbedaan biologis, setiap individu memiliki perbedaan intelektual. Perbedaan ini dapat dilihat dari performanya dalam kegiatan belajar seperti bertanya, menjawab, atau hasil tugasnya. Berdasarkan itulah teori Binet yang dikembangkan oleh Jensen menggunakan tes IQ dalam rangka mengenali sekaligus mengukur:
 kemampuan intelektual,
 kemampuan umum,
 kecerdasan dalam memecahkan masalah,
 kemampuan berkelompok,
 pencapaian tingkat akademik, dan
 indikator kemampuan intelektual seperti menghitung, bahasa, menerima perubahan, mengingat, memahami hubungan, dan berfantasi.
Intelegensi dideskripsikan menjadi dua yaitu konstruk S (specifik), dan konstruk G (general). Konstruk Specifik adalah konstruk yang khusus dimiliki oleh individu. Dan hal ini akan dijadikan pertimbangan penempatannya dalam situasi belajar, atau jenis pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasinya. Sedangkan konstruk general adalah ukuran kemampuan intelektual umum yang dimiliki oleh setiap individu.
Dalam kontruk ini dibedakan ukuran tingkat kemampuannya. Konstruk S diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan. Sedangkan konstruk G kebanyakan merupakan faktor genetik. Gagner mengembangkan teori tentang multiple intelligence yang menyatakan bahwa manusia memiliki o dimensi semi otonom, yaitu:
 Linguistik
 Musik
 Matematik-logis
 Visual spasial
 Kinesik fisik
 Sosial interpersonal
 Intrapersonal
 Intelegensi natural
Dalam hal ini perbedaan kognitif setiap individu dapat terlihat pada bagaimana seseorang:
1. berperhatian pada sesuatu
2. mendiskriminasikan rangsangan
3. mengklasifikasi ciri-ciri umum
4. meresponse time dalam problem solving
5. memiliki tanggapan induktif logis dan berpikir deduktif
6. mengantisipasi sesuatu secara konstruk terhadap rangsangan dari luar.
Untuk membedakan gaya kognitif sebagai analisis perbedaan individu dalam pengelolaan pendidikan, perhatikanlah bagan berikut ini! Gaya Kognitif Pengelolaan Pengajaran Conceptual tempo Psikologi tinggi Psychological differentiation Terikat vs bebas Cognitive reflective Psikologi rendah Cognitive impulsive Global vs analytic
3. Aspek Psikologis Ada dua komponen mendasar yang membedakan individu secara psikologis dalam dunia ilmu pendidikan, yaitu minat dan kemandirian. Minat sangat berkaitan dengan masalah bahan ajar, alat ajar, situasi, kondisi, serta guru. Sedangkan kemandirian seseorang bergantu pada upaya membebaskan diri dari ketergantungan pada bantuan orang lain, menumbuhkan keberanian, dan rasa percaya diri.
Berdasarkan teori dan temuan para ahli yang dikemukakan di atas, ternyata muncul perbedaan intrapersonal dan interpersonal antar individu yang pada akhirnya dijadikan sebagai landasan utama dalam kehidupan yang termasuk di dalamnya adalah pendidikan.
Pengelompokan Anak Didik untuk Keperluan Pendidikan Yang dimaksud dengan pengelompokan adalah penyatuan beberapa individu yang memiliki kesamaan karakter dan sifat untuk tujuan tertentu. Dikatakan untuk tujuan tertentu karena perilaku individu tidak selalu memiliki tingkat kesamaan fungsi dan arah walaupun memiliki karakter yang sama atau hampir sama. Jadi kesamaan yang dimaksud dikelompokkan berdasarkan kedekatan, tujuan, minat, dan bakatnya. Pendekatan ini lebih dikenal dengan teori kedekatan (teori propinquity). Teori ini menyatakan bahwa kedekatan individu dengan individu lain karena ada kedekatan ruang, jarak, dan daerah (spatial and geografhical proximity). Sementara George Homans mengatakan bahwa terjadinya kelompok akibat interaksi dan sentimen (perasaan dan emosi). Sedangkan Theodore Newcomb mengungkap pembentukan kelompok berdasarkan teori keseimbangan yang menjelaskan bahwa individu tertarik individu lain atas kesamaan nilai dan sikap terhadap suatu tujuan yang relevan bagi mereka seperti agama, politik, gaya hidup, perkawinan, pekerjaan, dan otoritas. Sedangkan teori pertukaran (exchange theory) mengatakan pembentukan kelompok atas dasar motivasi dan fungsi. Dan ada juga teori kelompok yang didasari oleh alasan praktis. Artinya kelompok terbentuk berdasarkan profesi, keamanan, dan sosial.
Menurut Reitz, kelompok dapat diidentifikasi berdasarkan karakternya, yaitu:
1. adanya dua atau lebih individu
2. berinteraksi satu dengan yang lain
3. saling membagi beberapa tujuan yang sama
4. melihat individu sebagai kelompok
Walaupun banyak penggolongan kelompok berdasarkan teori, namun pada dasarnya kelompok dibedakan atas:
 Kelompok primer, yaitu kelompok yang dibangun dengan keakraban, kerja sama, tatap muka interpersonal, persamaan beberapa pengertian, dan cita-cita individu.
 Kelompok formal, adalah kelompok yang sengaja dibentuk dalam menjalankan tugas tertentu.
 Kelompok nonformal, adalah kelompok yang berinteraksi terhadap daya tarik dan kebutuhan individu.
 Kelompok terbuka, adalah kelompok yang memiliki daya tanggap terhadap perubahan dan pembaruan.
 Kelompok tertutup, adalah kelompok yang kolot atau mapan dengan mempertahankan tradisinya.
 Kelompok referensi, adalah kelompok yang selalu mencari umpan balik tentang anggota kelompoknya.
Dalam dunia pendidikan pengelompokan berdasarkan kelompok general dan spesifik. Dan pengelompokan dalam pendidikan harus bersifat formal/nonformal, terbuka, dan referensi. Hal ini dikarenakan: Kehidupan itu komplek. Kehidupan itu memiliki brebagai sektor kehidupan. setiap individu memiliki kemampuan, minat, dan bakat yang dapat dikelompokkan guna menunjang efektifitas pendidikan. setiap individu memiliki tingkat kemampuan intelektual, dan kognitif yang dapat dikelompokkan terutama bidang pengetahuan umum sehingga proses pendidikan dapat lebih efisien. Keterampilan bersifat spesifik dan terpisah, sehingga akan terbentuk kelompok elit sesuai dengan dejis keterampilannya. program pendidikan sangat terbatas kemampuannya untuk melayani setiap kebutuhan individu.
Pengelompokan Anak Didik untuk Keperluan Penyelenggaraan Pembelajaran
Ada pertimbangan dalam pengelompokan anak didik untuk keperluan penyelenggaraan pengajaran berdasarkan teori perbedaan perilaku individu yang dikembangkan oleh Spearman, Guilford, dan Thurnstone. Individu dikelompokkan berdasarkan: Kesebayaan usia. Tujuannya untuk menghindari konflik terhadap perbedaan
pertumbuhan psikomotorik, psikologis, dan kognitif. Kesamaan ilmu dasar yang diminati, untuk menghindari konflik antardisiplin ilmu yang diminati oleh individu.
Kesamaan keterampilan praktis, untuk mengarahkan pada keterampilan yang diinginkan.
Kesamaan keterampilan psikomotorik, untuk individu yang lebih mengandalkan keterampilan gerak dan reflek tubuh. Kesamaan profesi, sehingga akan memperkuat individu dalam mendalami profesi yang dipilihnya. Kesamaan cacat fisik, (baik cacat mental, maupun cacat fisik) untuk memberi peluang agar mereka tidak terhambat dalam memperoleh pendidikan.
Analisis Kekurangan dan Keuntungan Penyelenggaraan Pendidikan yang Segregatif, dan integratif. Pendidikan segregatif atau terpisah-pisah atau terbagi-bagi merupakan sistem pendidikan yang menciptakan kompetensi dan unggulan-unggulan yang memberi keleluasaan kepada individu untuk bersaing, memilih, atau melakukan upaya pencapaian prestasi sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, dan kondisi fisik masing-masing.
Pendidikan segregatif bersifat inklusif, menguntungkan peserta didik yang memiliki bakat serta keunggulan (gifted and talented), termasuk anak yang memiliki ketunaan tau cacat, dan yang mengalami kesulitan belajar.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment